Penyair Mampus
Penyair
Mampus
Pada suatu waktu…
Kalimat Anda membingungkan.
Apa yang sebenarnya hendak Anda ungkap?
Hidup Anda? Lingkungan? Mereka? Heh, coba terangkan maksudmu.
Ehm, (dia bilang) terserahku, kawan. Aku telah membaca ribuan kata, sama
seperti kalimat yang kutulis. Aku sudah melewati rentetan masa, tapi
itu tak sama dengan yang kamu alami. Apa pun itu, akan kubuktikan.
Dan begitu pun yang terjadi sebaliknya. Aku bisa menjadi orang lain,
tetanggaku, guruku, bahkan tuhan.
Oi, menarik (pikirku). Menjadi Tuhan?
Ya, ya, menjadi tuhan.
Yang pasti hanya dalam tulisan Anda, kan?
Apa
maksudmu? (tanya dia)
Ya, menjadi tuhan dalam tulisan Anda. (huh, telat nih orang, gumamku)
Oh, tentu. Pasti!
Jadi Anda percaya Tuhan itu ada?
Susah, susah, kawan. (ujarnya sambil menggelengkan kepala)
Aku kadung menjadi tuhan dalam tulisanku, dan terserahkulah untuk percaya
atau tidak. (dia sewot)
Oke, sori kalau pertanyaanku itu terlalu kekanak-kanakan. Mmm, bagaimana
dengan kematian? Bukankah kehidupan seorang penyair (aku tidak tahu
benar apakah dia seorang penyair) itu erat kaitannya dengan hal
tersebut? Benarkah?
Who said that? Kata siapa?
Kata orang. Itu pun yang pernah kudengar, mungkin aku salah dengar. (:p)
Tapi bisa jadi itu benar. Aku juga telah membaca ribuan kata seperti Anda.
Dan, di antara itu, aku telah membaca kalimat-kalimat penyair yang
menyinggung atau setidaknya menyerempet soal kematian. Bukan hanya
satu-dua penyair.
Aneh, padahal mereka belum mengalaminya.
Kematian. Mati. Ah…. (dia menerawang)
Setelah ribuan kalimat yang Anda tulis-baca, bisakah Anda menyimpulkan
kematian?
Ketika kamu mati, kamu telah mati!
9 Mei 2006
Bastian

